Laporan Praktikum Ke-8 Hari/Tanggal : Senin, 23 April 2012
Integrasi Proses Nutrisi Tempat Praktikum : Laboratorium Biokimia
dan Mikrobiologi Nutrisi
Nama
Asisten : Tekad Urip P
LEMAK, PRINSIP DAN PENGGUNAAN SPEKTROFOTOMETER DALAM
PENENTUAN KADAR PROTEIN
Santa Lusya
Simanjuntak
D24100026
Kelompok 2/ G1
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Lemak
adalah persenyawaan asam lemak dan gliserol, yang tersusun atas unsur C, H, dan
O. Berdasarkan sumbernya lemak terbagi menjadi lemak hewani dan lemak nabati.
Lemak hewani adalah lemak yang berasal dari hewan seperti lemak ayam, lemak
sapi, susu, daging, dan lain-lain. Lemak nabati adalah lemak yang berasal dari
tumbuhan seperi minyak zaitun, minyak kelapa, minyak sawit, kacang-kacangan,
dan lain-lain. Lemak berfungsi sebagai penghasil energi tubuh, pelindung organ,
dapat melarutkan vitamin (A, D, E, dan K), dan sebagai sumber lemak. Lemak
tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik seperti eter,
klorofom, benzena, dan minyak tanah (Anonim, 2012).
Selain
uji kelarutan lemak, dapat pula dilakukan uji kadar protein dengan menggunakan
spektrofotometer berdasarkan reaksi ninhidrin. Spektrofotometer merupakan alat
yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan
panjang gelombang tertentu pada suatu objek kaca atau kuarsa yang disebut
kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan.
nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi
larutan di dalam kuvet. Spektrofotometer terdiri dari sumber cahaya, pemilih panjang
gelombang, dan detektor. Semua spektrofotometer memiliki pemisah yang berbeda
yaitu filter, prisma atau kisi. Keuntungan menggunakan teknik spektrofotometer
adalah tingginya derajat sensitifitas dan spesifisitas, mudah dan cepat
digunakan dalam pengukuran (Cairns, 2009).
Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari
derajat kelarutan lemak nabati dan hewani di dalam berbagai fungsi jenis
pelarut, menentukan kadar protein berdasarkan reaksi ninhidrin dengan
menggunakan spektrofotometer, dan uji kualitatif protein dengan larutan CuSO4.
TINJAUAN
PUSTAKA
Lipida
Lemak merupakan senyawa yang mudah terpisah karena
memiliki berat jenis yang kecil. Karena memiliki luas permukaan yang sangat
besar, reaksi-reaksi kimia mudah sekali terjadi
di permukaan perbatasan antara lemak dan mediumnya. Permukaan yang luas tersebut
terjadi karena lemak berada dalam bentuk globula-globula dengan ukuran diameter
yang berbeda. Tiap butiran lemak itu dikelilingi oleh selapis film (membran)
protein dan hal inilah yang antara lain menyebabkan kestabilan dari emulsi.
Dalam 1 ml air susu terdapat kira-kira tiga bilyun (3x109) globula
lemak (Chairunnisa, 1982).
Secara kuantitatif lemak tersusun oleh 98-99%
trigliserida yang terdapat dalam globula lemak, 0,2-1,0% phospolipida yang
terdapat dalam membran material dan sebagian dalam serum. sisanya adalah sterol
yang kadarnya antara 0,25-0,40% asam lemak bebas dan vitamin-vitamin larut
lemak seperti vitamin A dan vitamin E (Chairunnisa, 1982).
Minyak
Jagung
Asam
lemak pada jagung meliputi asam lemak jenuh (palmitat dan stearat) serta asam
lemak tidak jenuh, yaitu oleat (omega 9) dan linoleat (omega-6). Pada QPM
terkandung linolenat (omega-3). Linoleat dan linolenat merupakan asam lemak
esensial. Lemak jagung terkonsentrasi pada lembaga. Lembaga dicirikan oleh
tingginya kadar lemak (33%). Terkonsentrasi pada lembaga, kandungan lemak biji
jagung terkendali secara genetik, berkisar antara 3-18%. Minyak jagung relatif
stabil karena kandungan asam linolenatnya sangat kecil (0,4%) dan mengandung
antioksidan alami yang tinggi (Suarni et
al, 2008).
Minyak
Kelapa
Minyak
kelapa merupakan minyak yang diperoleh dari kopra (daging buah kelapa yang
dikeringkan) atau dari perasan santannya.
Minyak kelapa sebagaimana minyak nabati lainnya merupakan senyawa
trigliserida yang tersusun atas berbagai asam lemak dan 90% diantaranya
merupakan asam lemak jenuh. Minyak kelapa kaya akan asam lemak berantai sedang
(C8 –
C14),
khususnya asam laurat dan asam meristat. Adanya asam lemak rantai sedang ini (medium
chain fat) yang relatif tinggi membuat minyak kelapa mempunyai beberapa
sifat daya bunuh terhadap beberapa senyawaan yang berbahaya di dalam tubuh
manusia. Sifat inilah yang didayagunakan pada pembuatan minyak kelapa murni
(VCO, virgin coconut oil) (Anonim, 2006).
Minyak
Dedak Padi
Minyak dedak padi merupakan
salah satu jenis minyak yang memiliki kandungan nutrisi tinggi, berbagai macam
asam lemak, senyawa-senyawa biologis aktif dan senyawasenyawa antioxidan
seperti: γ-oryzanol, tocopherol, tocotrienol, phytosterol, polyphenol dan
squalene (Goffman et al, 2003).
Minyak mentah dedak padi sulit dimurnikan karena tingginya kandungan asam lemak
bebas dan senyawa-senyawa tak tersaponifikasikan (Bhattacharyya et al, 1983).
Minyak
Sawit
Minyak
sawit telah banyak digunakan dalam industri pangan dan non pangan sebagai bahan
baku industri farmasi, kosmetika, deterjen dan surfaktan. Asam lemak dan ester
asam lemak berantai pendek juga bermanfaat sebagai senyawa aromatik penyedap
rasa. Metil dan etil ester asam lemak berantai panjang bermanfaat untuk
produksi alkohol lemak serta bahan bakar pengganti untuk motor bermesin disel.
Asam lemak tidak jenuh berantai panjang, antara lain asam oleat, linoleat,
linolenat dan arakhidonat, bahkan bermanfaat untuk pencegahan dan penyembuhan
berbagai penyakit yang berkaitan dengan sistem peredaran darah antara lain
trombosis dan ateroklerosis (Handayani, 2005).
Lemak
Sapi
Lemak
sapi (beef tallow) merupakan bahan pakan alternatif yang dapat dicoba, khususnya
karena merupakan sumber energi yang sangat potensial, yaitu dengan energi
metabolis 7010 kkal/kg (Scott et al.,
1982). Lemak sapi juga merupakan sumber asam lemak esensial. Konsekuensi logis
pemanfaatan lemak sapi dalam ransum unggas adalah berubahnya kecernaan ransum
itu sendiri yang secara langsung
berpengaruh pada penyediaan zat-zat makanan bagi penampilan ternak itu sendiri.
Unggas mempunyai kemampuan yang sangat terbatas dalam mencerna lemak, terutama
pada periode awal dari pertumbuhannya (Scott et al., 1982).
Pelarut
Lemak
Asam asetat merupakan pelarut polar, sama
seperti etanol dan air konstanta dielektrik sebesar 6,2. Seperti halnya
kloroform da hexana, asam asetat tidak hanya melarutkan senyawa polar seperti
gula dan garam organik, tetapi juga melarutkan senyawa nonpolar seperti minyak
dan polimer. Hal ini memungkinkan asam asetat dipakai secara luas oleh industri
(Anatia, 2007).
Alkohol atau etanol dengan rumus kimia
C2H5OH adalah campuran etil alkohol dengan air. Etanol
mengandung tidak kurang 95% vv dan tidak lebih dari 96,8% vv C2H5OH.
Sifat alkohol adalah cairan bening, mudah menguap dan mudah bergerak, tidak
berwarna, bau khas dan rasa panas. Alkohol 96% disebut alkohol kuat atau
alkohol pekat. Alkohol pekat bila dibubuhi alkohol pekat akan pecah
(Chairunnisa, 1982).
Natrium
hidroksida (NaOH) adalah senyawa
alkali berbentuk butiran padat berwarna putih dengan berat molekul 40 gram/mol,
titik lebur 318,4 0C, titik didih 1390 0C, panas
kelarutan +7,08 kcal/grmole, dan merupakan basa kuat yang larut dalam air.
Bersama dengan asam lemak, NaOH bereaksi membentuk sabun dan gliserol
(Widiyanti, 2009).
Sodium
dodecyl sulfat (SDS atau NaDS),
natrium atau sodium laurilsulfate lauril sulfat (SLS) (C12H25SO4Na)
adalah surfaktan anionik yang digunakan dalam membersihkan produk higienis.
Garam terdiri dari sebuah organosulfate anionik yang terdiri dari 12 rantai
karbon terikat pada gugus sulfat, memberikan sifat amphiphilic dari deterjen
yang diperlukan bahan. SDS adalah
sufaktan yang efektif dalam setiap tugas yang membutuhkan penghapusan noda minyak
dan residu (Marrakchi, 2006).
Sabun
merupakan pembersih yang dibuat melalaui reaksi kimia antara basa natrium atau
kalium dengan asam lemak dari minyak nabati atau lemak hewani. Widiyanti (2009)
menyebutkan bahwa sabun adalah bahan yang digunakan untuk tujuan mencuci dan
mengemulsi, terdiri dari dua komponen utama yaitu asam lemak dengan rantai
karbon C12-C18 dan sodium atau potassium. Molekul sabun terbentuk dari rantai
panjang atom hidrogen dan karbon. Salah satu ujung rantai tersusun dari
atom-atom polar yang suka air (hidrofilik) sementara ujung yang lain yaitu
gugus R terdiri dari atom-atom non polar yang tidak suka air (hidrofobik) tetapi mudah mengikat lemak (Widiyanti,
2009).
Spektrofotometer
Spektrofotometer
merupakan alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan
cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu objek kaca atau kuarsa yang
disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan
dilewatkan. nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan
konsentrasi larutan di dalam kuvet. Secara garis besar spektrofotometer terdiri
dari 4 bagia penting yaitu sumber cahaya, monokromator, cuvet, dan detektor
(Cairns, 2009).
Dengan
mengukur transmitan larutan sampel, dimungkinkan untuk menentukan hukum
Lambert-Beer. Spektrofotometer akan mengukur intensitas cahaya melewati sampel
(I), dan membandingkan ke intensitas cahaya sebelum melewati sampel (Io). Rasio
disebut transmittance, dan biasanya dinyatakan dalam persen (%T) sehingga bisa
dihitung besar absorban (A) dengan rumus A = -log %T (Underwood, 2002).
MATERI
DAN METODE
Materi
Alat-alat
yang digunakan pada percobaan uji kelarutan lemak adalah tabung reaksi, rak
tabung reaksi, spoit 1 ml, dan sendok plastik merah. Alat-alat yang digunakan
pada percobaan prinsip dan penggunaan spektrofotometer dalam penentuan kadar
protein adalah spektrofotometrik, labu takar, gelas piala, tabung reaksi, rak
tabung reaksi, corong, timbangan, pipet mohr 1 ml, kompor dan pengaduk.
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan kelarutan lemak adalah minyak jagung,
minyak kelapa, minyak kelapa sawit, minyak dedak padi, lemak ayam, lemak sapi,
pelarut organik (asam asetat, alkohol, campuran alkohol), pelarut basa (NaOH,
sabun colek, SDS), aquadest, dan tissue. Bahan-bahan yang digunakan pada
percobaan prinsip dan penggunaan spektrofotometer dalam penentuan kadar protein
adalah larutan: standar casein (10 mg/ml) dan ninhidrin 0,1%, dan susu skim.
Metode
Kelarutan
lemak
Pelarut
dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 2 ml. Setelah itu sampel sumber lemak
ditambahkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 1 ml. Tabung reaksi dikocok
kuat-kuat. Kelarutan lemak diamati.
Pembuatan
larutan standar
Larutan casein
dipipet sebanyak 0, 1, 2, 3, 4, 5 ml ke dalam 6 tabung reaksi. Aquadest
dimasukkan ke dalam tabung reaksi hingga volume 10 ml. Tabung reaksi dikocok
hingga homogen. Sebanyak 5 ml dipipet dari masing-masing tabung lalu
dipindahkan ke tabung reaksi lainnya. Larutan ninhidrin 0,1 % ditambahkan
sebanyak 1 ml kemudian tabung ditutup dengan aluminium foil. Semua tabung
reaksi dipanaskan dalam air mendidih selama 10 menit kemudian didinginkan dalam
suhu ruangan. Baca serapan pada spektrofotometrik dengan panjang gelombang 540nm.
Pengujian
sampel secara kualitatif
Sampel susu skim dipipet sebanyak 10 ml ke dalam labu
takar. Aquadest ditambahkan ke dalam labu takar hingga tanda tera 100 ml lalu
dikocok hingga homogen. Larutan sampel susu skim dipipet 10 ml ke dalam tabung
reaksi, ditambahkan latutan ninhidrin sebanyak 1 ml kemudian tabung reaksi
dipanaskan selama 10 menit dalam air mendidih. Baca serapan pada
spektrofotometrik dengan panjang gelombang
540nm.
Pengujian
sampel secara kualitatif (Prosedur 1)
Larutan sampel
contoh protein dimasukkan sebanyak 1 ml, larutan NaOH ditambahkan sebanyak 2
ml, kemudian larutan CuSO4 1% ditambahkan sebanyak 2 tetes melalui
tabung reaksi dan dicampur hingga homogen. Prosedur tersebut dilakukan dengan
mengganti sampel contoh protein dengan air. Warna cincin merah jambu atau
violet yang terbentuk diamati.
Pengujian
sampel secara kualitatif (Prosedur 2)
Prinsip yang
digunakan pada uji ini adalah rotein yang tidak larut dalam air, harus
dilarutkan dalam alkohol; contoh: serealia, dan protein yang larut akan
memberikan reaksi warna violet pada lapisan alkohol. Sedikit sampel protein
dimasukkan ke dalam tabung reaksi, larutan NaOH 5% ditambahkan sebanyak 1 ml,
larutan alkohol 95% ditambahkan sebanyak 3 ml’ lalu dipanaskan di atas pemanas
selama 1,5 menit. Larutan yang terbentuk dipisahkan dengan kertas saring
kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi lainnya. Tabung reaksi didinginkan
pada suhu ruangan. Larutan NaOH 40% ditambahkan sebanyak 1 ml, larutan CuSO4
ditambahkan sebanyak 2 tetes melalui dinding tabung reaksi, kemudian warna
violet pada lapisan alkohol diamati. Larutan NaOH ditambahkan jika belum
terbentuk lapisan warna ungu.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tabel 1. Uji kelarutan lemak
Nama bahan
|
Alkohol
|
NaOH
|
SDS
|
Sabun colek
|
Asam asetat
|
Campuran alkohol
|
Minyak jagung
|
+
|
-
|
-
|
+++
|
+
|
++
|
Minyak kelapa
|
+
|
+
|
+++
|
+++
|
+
|
++
|
Minyak sawit
|
+
|
-
|
+++
|
+++
|
+
|
++
|
Minyak dedak padi
|
+
|
-
|
++
|
+++
|
+
|
++
|
Lemak ayam
|
+++
|
+++
|
++
|
+++
|
++
|
++
|
Lemak sapi
|
-
|
++
|
-
|
+
|
-
|
-
|
Keterangan:
- : tidak larut
+ : sedikit larut
++ : banyak larut
+++ : sangat larut
Tabel
2. Uji Kualitatif Kadar Protein (Prosedur 1 dan Prosedur 2)
Nama bahan
|
Kadar protein
|
Aquadest
|
-
|
Susu skim
|
+
|
Susu murni
|
++
|
Tepung ikan
|
+++
|
Keterangan: - : tidak mengandung protein
+ : mengandung sdikit protein
++ : mengandung banyak protein
+++ : mengandung sangat banyak protein
Tabel
3. Pembuatan Larutan Standar
Standar Casein
|
absorbansi
|
0 tetes
|
0,0000
|
1 tetes
|
0,061
|
2 tetes
|
0,082
|
3 tetes
|
0,141
|
4 tetes
|
0,124
|
5 tetes
|
0,175
|
Tabel
4. Uji Sampel (Susu Skim+aquadest+buret) Secara Kuantitatif
Nama bahan
|
Absorbansi
|
Susu skim
|
2,602
|
Grafik
hubungan antara konsentrasi larutan standar dengan absorbansi

Pembahasan
Lemak dan minyak
termasuk dalam kelompok senyawa lipida, yang umumnya mempunyai sifat tidak
larut dalam air. Tiap butiran lemak dikelilingi oleh selapis film (membran)
protein dan hal ini yang menyebabkan kestabilan dari emulsi. Pada percobaan uji
kelarutan lemak pada pelarut organik (alkohol campuran alkohol, dan asam
asetat) dan pelarut basa (NaOH, SDS, dan sabun colek), pelarut yang paling kuat
dalam melarutkan lemak adalah sabun colek. Hal ini merupakan pelarut basa yang
mana salah satu ujung rantai karbon tersusun atas atom-atom polar yang suka air
sementara ujung yang lain yaitu gugus R terdiri dari atom-atom non polar yang
tidak suka air (hidrofobik) tetapi mudah
mengikat lemak (Widiyanti, 2009).
Protein merupakan senyawa polimer organik yang berasal dari
monomer asam amino yang mempunyai ikatan peptida. Protein dalam susu berupa
casein 80%, lactabumin 18%, dan 2% lain-lain. Cara reaksi berwarna
untuk pepetida dan protein tetapi tidak untuk asam amino bebas, adalah reaksi biuret. Reaksi ini terjadi antara peptida atau
protein dengan CuSO4 dan alkali, yang menghasilkan senyawa kompleks
berwarna ungu. Protein apabila dicampur
dengan larutan CuSO4 akan
menghasilkan warna ungu. Warna ungu ini disebabkan terbentuknya kompleks Cu2+
dengan protein pada gugus asilnya. Kompleks Cu2+ direduksi
oleh protein menghasilkan endapan Cu2O (Wirahardikusumah, 2008).
Uji
kadar protein pada larutan standar dilakukan dengan pembacaan pada
spektrofotometer dengan panjang gelombang 540 nm. Hasil yang didapatkan
menyatakan bahwa semakin banyak larutan standar casein yang dipipet, maka
semakin tinggi nilai absorbansi yang terbaca kecuali pada larutan standar
sebanyak 4 tetes. Pada larutan standar casein 4 tetes menunjukkan penurunan
dari 141 menjadi 124. Pada grafik terdapat garis linier dan persamaan garis y =
0,253x – 0,450 yang akan digunakan untuk menghitung persentase protein. Meskipun
nilai absorbansi menurun dengan bertambah konsentrasi larutan standar (pada
konsentrasi casein 4 tetes), tetapi konsentrasi menunjukkan nilai yang positif yaitu semakin bertambah konsentrasi larutan
standar maka konsentrasi protein semakin meningkat. Konsentrasi protein yang
diperoleh adalah 75,39375% dengan nilai R = 0,884.
KESIMPULAN
Lemak dan minyak
termasuk senyawa lipida, yang umumnya mempunyai sifat tidak larut dalam air. Lemak
dapat larut pada pelarut basa seperti sabun colek dan SDS, dan pelarut organik
yaitu alkohol. Urutan pelarut yang paling kuat hingga paling lemah dalam
melarutkan lemak adalah sabun colek, campuran alkohol, alkohol, SDS, asam
asetat, dan NaOH. Uji kadar protein menggunakan spektrofotometer dengan
menghitung nilai absorbansi, dan diperoleh konsentrasi protein 75,39375%.
Selain itu, terdapat analisis ninhidrin yang digunakan untuk melihat kualitatif
protein. Protein dicampur dengan larutan CuSO4 akan menghasilkan
warna violet atau ungu yang menandakan adanya protein dalam suatu sampel.
\
DAFTAR
PUSTAKA
Anatia,
Dossi Rahdumi. 2007. Pengaruh suhu, jenis dan perbandingan pelarut terhadap
kelarutan biplastik dari PHA (Poly—Hydroxyalkanoates) yang dihasilkan Ralstonia eutropha pada substrat
hidrolisat pati sagu. Skripsi. Bogor: Fakultas Pertanian Institut Pertanian
Bogor.
Anonim. 2006. Teknologi Proses
Pengolahan Minyak Kelapa. MAPI.
Anonim.
2012. Pengertian dan fungsi zat makanan (karbohidrat, lemak dan protein). http://id.shvoong.com/medicine-and-health/nutrition/2256373-pengertian-dan-fungsi-zat-makanan/.
Diakses tanggal [25 April 2012]
Bhattacharyya, D.K., M.M. Chakrabarty,
R.S. Vaidyanathan, A.C Bhatachryya. 1983. A critical study of the refining of
rice bran oil. J. Am. Oil Chem. Soc.
60:467-471.
Cairns
D. 2009. Intisari Kimia Farmasi Edisi Kedua. Puspita Rini. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Terjemahan dari: Essentials of Pharmaceutical Chemistry
Second Edition.
Chairunnisa,
Hartati. 1982. Evaluasi tingkat konsentrasi alkohol sebagai salah satu uji
kualitas air susu. Laporan Penelitian. Bandung: Fakultas Peternakan Universitas
Padjajaran.
Goffman, F. D. 2003. Genetic diversity
for lipid content and fatty acid profile in rice bran. J. Am. Oil Chem. Soc. 80:485-490.
Handayani,
Rini dan Joko Sulistyo. 2005. Transesterifikasi ester asam lemak melalui
pemanfaatan tenologi lipase. Boidiversitas. 6:164-167.
Marrakchi
S, Maibach H. I. 2006. Sodium lauryl sulfate-induced irritation in the human
face: regional and age-related differences. Skin Pharmacol Physiol 19 (3):
177-80.
Scott, M.L., M.C. Nesheim and R.J.
Young. 1982. Nutrition of the Chickens. Publ. By M.L. Scott Assoc., Ithaca, N.Y.
Suarni dan Widowati. 2008. Struktur,
komposisi, dan nutrisi jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros. Balai
Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor.
Widiyanti,
Yunita. 2009. Kajian pengaruh jenis minyak terhadap mutu sabun transparan.
Skripsi. Bogor: Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Wirahardikkusumah, Muhammat. 2008. Biokimia. Bandung:
Penerbit ITB.
Underwood
A dan Day R. 2002.Analisis Kimia Kualitatif Edisi Keenam. Penerjemah: Sopyan
Iis. Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Quantitative Analysis Sixth Edition.
LAMPIRAN
y
= 0,253x – 0,450
2,602
= 0,253x – 0,450
Maka
x =
= 12,063
maka persentase protein pada sampel
susu
% protein =
x 100%
x 100%
=
x 100%
= 75,39375%
R2
= 0,782
R
=
= 0,884
Karena
R
, maka hubungan antara
larutan standar dengan nilai absorbansi kuat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar