Selasa, 15 Mei 2012

Tanin



Laporan Praktikum Ke-8                    Hari/Tanggal               : Senin, 30 April 2012
Integrasi Proses Nutrisi                       Tempat Praktikum       : Laboratorium Biokimia
            dan Mikrobiologi Nutrisi        
Nama Asisten              : Denbetti Noviani




TANIN

Santa Lusya Simanjuntak
D24100026
Kelompok 2/ G1






















DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Tanin merupakan salah satu senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman dan disintesis oleh tanaman. Tanin dibagi menjadi dua kelompok yaitu tanin yang mudah terhidrolisis dan tanin terkondensasi. Tanin dapat dijumpai pada hampir semua jenis tumbuhan hijau di seluruh dunia baik tumbuhan tingkat tinggi maupun tingkat rendah dengan kadar dan kualitas yang berbeda-beda (Jayanegara et al., 2008).
            Ikatan tanin dengan protein  mempunyai efek negatif terhadap fermentasi rumen dalam nutrisi ternak ruminansia. Tanin dapat berikatan dengan dinding sel mikroorganisme rumen dan dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme atau aktivitas enzim. Keberadaan tanin di sisi positif adalah apabila tanin berikatan dengan protein yang berkualitas tinggi dapat terlindung oleh tanin dari degradasi mikroorganisme rumen sehingga lebih tersedia pada saluran pencernaan. Kompleks ikatan tanin dengan protein dapat dilepas pada pH rendah di abomasum dan protein dapat didegradasi oleh enzim pepsin sehingga asam-asam amino yang dikandungnya tersedia bagi ternak (Jayanegara et al., 2008).
            Analisis senyawa tanin sangat diperlukan untuk mengkuantifi kasi keberadaan dan aktivitas tanin pada Hijauan Makanan Ternak (HMT) serta pengaruhnya terhadap ternak ruminansia. Dalam praktikum ini akan dipelajari cara mendeteksi adanya tanin dalam hijauan pakan ternak secara kualitatif, dan mengetahui berbagai senyawa yang mampu berikatan dengan tanin.

Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah untuk mendeteksi keberadaan tanin di dalam hijauan pakan ternak, dan mengetahui senyawa yang mampu berikatan dengan tanin.





TINJAUAN PUSTAKA
Tanin
            Tanin merupakan suatu senyawa fenol yang memiliki berat molekul besar yang terdiri dari gugus hidroksi dan beberapa gugus yang bersangkutan seperti karboksil untuk membentuk kompleks kuat yang efektif dengan protein dan beberapa makromolekul. Tanin terdiri dari dua jenis yaitu tanin terkondensasi dan tanin terhidrolisis. Kedua jenis tanin ini terdapat dalam tumbuhan, tetapi yang paling dominan terdapat dalam tanaman adalah tanin terkondensasi (Hayati et al., 2010).
Tanin yang mudah terhidrolisis merupakan polimer gallic atau ellagic acid yang berikatan ester dengan sebuah molekul gula, sedangkan tanin terhidrolisis merupakan polimer senyawa flavonoid dengan ikatan karbon-karbon (Jayanegara et al., 2008).
            Kemampuan tanin untuk membentuk kompleks dengan protein berpengaruh negatif terhadap fermentasi rumen. Tanin dapat berikatan dengan dinding sel mikroorganisme rumen dan dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme atau aktivitas enzim. Ketersediaan tanin di sisi lain berdampak positif jika ditambahkan pakan yang tinggi akan protein baik secara kuantitas maupun kualitas. Hal ini disebabkan protein yang berkualitas tinggi dapat terlindung oleh tanin dari degradasi mikroorganisme rumen sehingga lebih tersedia pada saluran pencernaan. Kompleks ikatan tanin dengan protein dapat dilepas pada pH rendah di abomasum dan protein dapat didegradasi oleh enzim pepsin sehingga asam-asam amino yang dikandungnya tersedia bagi ternak. Tanin dapat dipakai sebagai antimikroba (bakteri dan virus). Tanin juga berkhasiat sebagai astringen yang dapat menciutkan selaput lendir sehingga mempercepat penyembuhan sariawan (Jayanegara et al., 2008).

Kaliandra
            Kaliandra merupakan tanaman leguminosa yang tahan terhadap kekeringan dan mengandung protein sekitar 22% sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Disamping itu kaliandra mengandung tanin sekitar 10% menyebabkan kecernaan kaliandra menjadi rendah yaitu 35 - 42% dan diperkirakan dapat melindungi protein dari pemecahan oleh mikroba rumen. Kandungan tanin dalarn pakan ternak mrnpunyai pengaruh yang rnenguntungkan dan merugikan. Kaliandra merupakan tanin terkondensasi yang dapat mengikat protein dan dapat digunakan sebagai pelindung protein dari degragasi mikroba rumen (Wiryawan et al., 1999).

Lamtoro
Lamtoro (Leucaena leucocephala) merupakan salah satu leguminosa pohon yang mengandung protein tinggi dan karotenoid yang sangat potensial sebagai pakan ternak non ruminansia seperti unggas di daerah tropis. Lamtoro mengandung senyawa fenolik mimosin dan tanin dengan konsentrasi tinggi. Mimosin (b-N-(3-hydroxy-4-pyrodine) mengandung senyawa polifenol yang tinggi termasuk tanin akan mengikat protein, sehingga protein menjadi tidak “tersedia”  untuk ternak dan menyebabkan efek negatif terhadap palatabilitas, kecernaan, dan pertumbuhan (Laconi et al., 2010). Menurut Helena (1992) yang dikutip oleh Susanti (2002), kandungan nutrisi daun lamtoro cukup tinggi yaitu 24.77% protein, 1.7% abu, 3.86% lemak, 14.26% SK, 39.53% BETN, 1.57% Ca, dan 0.285% P.
           
Daun Kembang Sepatu
Daun, bunga, dan akar Hibiscus rosasinensis mengandung flavonoid. Di samping itu daunnnya juga mengandung saponin dan polifenol, bunga mengandung polifenol, akarnya juga mengandung  tanin,  saponin, skopoletin, cleomiscosin A, dan cleomiscosin C. Senyawa yang telah diisolasi adalah senyawa metabolit sekunder golongan fenolik, dan suatu senyawa metabolit sekunder yang mengandung gugus aromatik dan gugus hidroksi yang tidak berhubungan langsung (Nohong et al., 2006).

Daun Singkong (Manihot esculenta Crantz)
            Daun singkong mempunyai kandungan protein yang tinggi berkisar antar 16.7%-39.9% bahan kering dan hampir 85% dari fraksi protein kasar merupakan protein murni. Dari 2.5-3 ton/ha hasil samping daun singkong dapat menghasilkan tepung daun singkong sebanyak 600-800 kg/ha. Pemakaian tepung daun singkong dalam formulasi ransum dapat dijadikan sebagai sumber protein dan konsentrat pada kambing dan sapi perah. Selain berfungsi sebagai sumber protein, daun singkong juga berperan sebagai anti cacing (anthelmintic) dan kandungan taninnya berpotensi meningkatkan daya tahan saluran pencernaan ternak terhadap mikroorganisme parasit. Ensilase merupakan salah satu cara pengawetan daun singkong sebagai pakan ternak dan efektif menurunkan kandungan sianida (HCN) pada ubi kayu setelah 3 bulan ensilase yaitu 289 mg/kg menjadi 20.1 mg/kg (Anonim, 2011).

Teh
Teh merupakan salah satu hasil olahan komoditi pertanian yang dibuat dari daun pucuk tanaman Camellia sinensis. Dengan proses yang berbeda akan dihasilkan jenis teh yang berbeda, diantaranya yaitu teh hijau  (diproses tanpa fermentasi) dan teh hitam (diproses dengan fermentasi penuh) (Yudana et al., 1998).
Teh mengandung zat flavanoid atau tanin yang berfungsi sebagai penangkal radikal bebas yang mengacaukan keseimbangan tubuh dan menjadi salah satu pemicu kanker. Daun teh juga mengandung polifenol, theofilin, dan senyawa lainnya yang membantu menghambat perkembangan virus (Yudana et al., 1998).
Jenis teh juga berpengaruh terhadap kadar tanin. Hal ini karena menurut (Sartika, 2006) terdapat perbedaan cara pengolahan pada teh hijau dan teh hitam dimana perbedaan cara pengolahan ini berpengaruh terhadap kadar tanin pada masing-masing jenis teh. Sartika (2006) juga mengatakan bahwa dalam daun teh terdapat enzim yang disebut enzim katekol oksidase dimana enzim ini dapat mengubah senyawa tanin menjadi senyawa turunan.

Gamal
            Gamal (G. maculata) merupakan salah satu tanaman yang memiliki senyawa yang  dapat digunakan sebagai insektisida nabati. Tanaman ini banyak mengandung senyawa yang bersifat toksik  seperti dicoumerol, asam sianida (HCN), tanin, dan nitrat (NO3) (Nismah, 2009).. Hasil penelitian Indriyani (2008) membuktikan bahwa ekstrak etanol daun gamal mengandung senyawa toksik yang dapat mematikan imago hama bisul dadap.
            Daun gamal digunakan sebagai bahan makanan ternak ruminansia karena mempunyai protein kasar 25.2% dan energi yang lebih tinggi 5.3 Mkal/kg BK. Kadar ADF yang rendah (25.95%) juga menyebabkan koefisien cerna bahan kering ransum gamal lebih tinggi daripada ransum lamtoro dan kaliandra yang mengandung ADF sekitar 26.8% dan 36.5% (Rahmawati, 2001).  Selain itu kandungan tanin sekitar 0,07% dapat memberikan efek melindungi protein pakan dari degradasi mikroba rumen. Daun gamal juga mempunyai palatabilitas yang rendah karena baunya yang spesifik (Mathius et al., 1981).

Uji Kuinon
Uji Kuinon merupakan salah satu uji fitokimia. Menurut Metode Harborne (1996), Sebanyak 1 gram ekstrak tanaman ditambah 100 mL air panas, dididihkan selama 5 menit lalu disaring. Ke dalam 10 mL filtrat ditambahkan beberapa tetes NH4OH 1 N. Warna merah yang terbentuk menunjukkan adanya kuinon. Kuinon adalah senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar seperti kromofor pada benzokuinon, yang terdiri atas dua gugus karbonil yang berkonjugasi dengan dua ikatan rangkap karbo-karbon. Untuk tujuan identifikasi kuinon dapat dibagi atas empat kelompok yaitu : benzokuinon, naftokuinon, antrakuinon dan kuinon isoprenoid. Tiga kelompok pertama biasanya  terhidroksilasi dan bersifat fenol serta mungkin terdapat dalam bentuk gabungan dengan gula sebagai glikosida atau dalam bentuk kuinol. Golongan kuinon alam terbesar terdiri atas antrakuinon dan keluarga tumbuhan yang kaya akan senyawa jenis ini adalah Rubiaceae, Rhamnaceae, Polygonaceae. Antrakuinon juga disebut 9,10-dioxo-dihydro-anthracen dengan rumus C14H8O2. Senyawa ini biasa berwarna merah, tetapi yang lainnya berwarna kuning sampai coklat, larut dalam larutan basa dengan membentuk warna violet merah (Harborne, 1996).

Uji Tanin
Uji tanin merupakan uji terhadap adaanya tanin pada tanaman. Sebanyak 1 gram ekstrak tanaman ditambahkan 100 mL air panas, dididihkan selama 5 menit lalu disaring. Sebagian filtrat ditambahkan FeCl3. Terbentuknya warna biru tua atau hitam kehijauan menunjukkan terdapatnya tanin (Harborne, 1996).

Putih Telur
            Telur merupakan salah satu produk peternakan unggas yang memiliki kandungan gizi lengkap dan mudah dicerna. Secara umum telur terdiri atas tiga komponen utama yaitu kulit telur atau cangkang (11% dari bobot tubuh), puith telur (57% dari bobot tubuh), dan kuning telur (32% dari bobot tubuh). Telur utuh terdiri atas beberapa komponen, yaitu air 66% dan bahan kering 34% yang tersusun atas protein 12%, lemak 10%, karbohidrat 1% dan abu 11%. Putih telur tersusun atas protein terutama lisosin yang memiliki kemampuan anti bakteri untuk mengurangi kerusakan telur. Persentasi putih telur pada ayam petelur bervariasi secara keseluruhan tergantung dari strain, umur ayam dan umur dari telur (Suprapti 2002).

Sari Kedelai
            Sari kedelai adalah bagian nutrisi kedelai yang sudah diekstrak atau diambil biasanya dalam bentuk tepung dan dibuang ampasnya. Secara umum sari kedelai mengandung protein yang tinggi (35-38%). Selain itu kandungan lemak pada kedelai juga cukup tinggi (  20%). Dari jumlah ini sekitar 85% adalah asam lemak esensial (linoleat dan linolenat). Disamping memiliki protein tinggi, kedelai mengandung serta atau dietary fiber, vitamin dan mineral. Secara kualitatif protein kedelai tersusun atas asam amino esensial yang lengkap dan baik mutunya kecuali asam amino bersulfur yang merupakan faktor pembatas pada kedelai (Widaningrum et al., 2005).

Susu Skim
            Susu skim adalah bagian susu yang tertinggal sesudah krim diambil sebagian atau seluruhnya. Susu skim mengandung semua zat dari susu kecuali lemak dan viatmin-vitamin yang larut dalam lemak. Kadar lemak susu skim tidak lebih dari 0,1%. Susu skim mengandung kadar air sekitar 5% dan lemak 1,5%. Susu skim bubuk mengandung laktosa 28,3%, protein 62,7% dan lemak sebesar 1,3% dari berat kering (Fahmi, 2003).

Susu murni
            Susu adalah basil pemerahan dari ternak sapi atau ternak menyusui lainnya yang diperah secara kontinyu dan komponen-komponennya tidak dikurangi dan tidak ditambahkan bahan-bahan lain. Susu bernilai gizi tinggi dapat digunakan sebagai makanan manusia segala umur, sehingga susu merupakan makanan yang dapat dikatakan sempurna. Kadar lemak air susu berkisar antara 3,34-4,22% dan protein sekitar 3,15-3,22% (Muharini, 2003).

           
























MATERI DAN METODE
Materi
            Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah tabung reaksi, rak tabung reaksi, mortar, corong, kapas, botol selai, kompor, spoit 1 ml, timbangan, label, dan sendok plastik. Bahan-bahan yang digunakan adalah daun (gamal, lamtoro, kaliandra, singkong, kembang sepatu), teh, putih telur ayam ras, susu skim, susu murni, sari kedelai, larutan FeCl3, larutan NaOH 1 N, mineral CuSO4 dan KCl, glukosa, fruktosa, sukrosa, CMC, xylosa, dan aquadest.

Metode
Persiapan sampel
            Semua daun (daun gamal, daun kaliandra, daun singkong, daun kembang sepatu, daun lamtoro) digerus menggunakan mortar dan pestel. Sebanyak 6 gram sampel gerusan dimasukkan ke dalam botol selai, ditambahkan 100 ml air panas kemudian diaduk sampai dingin. Sampel disaring menggunakan corong dan kapas. Filtrat diambil dan ampasnya dibuang.
Uji Tanin
            Filtrat dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 5 ml, ditambahkan larutan FeCl3, dan diamati timbulnya warna kehijauan sebagai tanda keberadaan tanin. Prosedur yang sama dilakukan untuk semua filtrat hijauan lainnya. Bandingkan hasil antar filtrat baik daun maupun teh.
Uji Kuinon
            Filtrat daun gamal, daun kaliandra, daun singkong, daun kembang sepatu, daun lamtoro, dan teh sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi, larutan NaOH 1 N ditetesi sebanyak 3 tetes dan diamati adanya warna merah sebagai tanda adanya senyawa kuinon.
Uji ikatan tanin dengan dengan protein telur dan susu
            Filtrat daun gamal, daun kaliandra, daun singkong, daun kembang sepatu, daun lamtoro, dan teh sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan sampel susu (susu skim, susu murni, sari kedelai) dan putih telur, kemudian diamati apa yang terjadi. Amati perbedaan antar tanin hijauan dan sumber hiajuan.
Uji ikatan tanin dengan karbohidrat
            Filtrat daun gamal, daun kaliandra, daun singkong, daun kembang sepatu, daun lamtoro, dan teh sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan larutan glukosa 1% sebanyak 1 ml, dan diamati apa yang terjadi. Prosedur yang sama dilakukan untuk sumber karbohidrat lainnya. Amati perbedaan antar tanin hijauan dan sumber karbohidrat.
Uji ikatan tanin dengan mineral
            Filtrat daun gamal, daun kaliandra, daun singkong, daun kembang sepatu, daun lamtoro, dan teh sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi, larutan CuSO4 1%, dan diamati perubahan yang terjadi. Prosedur yang sama dilakukan menggunakan larutan KCl 1%.



















HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tabel Hasil Uji Tanin, Uji Kuinon, Uji Ikatan Tanin dengan Protein, Uji Ikatan Tanin dengan Karbohidrat dan Uji Ikatan Tanin dengan Mineral
Uji
Kaliandra
Singkong
Gamal
Kembang Sepatu
Lamtoro
Teh
Tanin
++++
++
+++
+
++++
++++
Kuinon
ü   
ü   
ü   
ü   
ü   
ü   
Protein:
-          Susu skim
-          Susu murni
-          Sari kedelai
-          Putih telur

+++
++
+++
++++

+
++++
++
+++

+
+++
++
+++

++++
+
++++
++

++
+
++++
++++

++++
++
+
++
Karbohidrat:
-          Glukosa
-          Fruktosa
-          Sukrosa
-          CMC
-          Xylosa

-
-
-
-
-

-
-
-
-
-

-
-
-
-
-

-
-
-
-
-

-
-
-
-
-

-
-
-
-
-
Mineral:
-          CuSO4
-          KCl

-
-

-
-

-
-

-
-

-
-

-
-

Pembahasan
            Tanin merupakan suatu senyawa fenol yang memiliki berat molekul besar yang terdiri dari gugus hidroksi dan beberapa gugus yang bersangkutan seperti karboksil untuk membentuk kompleks kuat yang efektif dengan protein dan beberapa makromolekul. Tanin terdiri dari dua jenis yaitu tanin terkondensasi dan tanin terhidrolisis (Hayati et al., 2010).
Berdasarkan hasil uji tanin, daun yang memiliki kandungan tanin yang paling banyak adalah kaliandra, lamtoro, dan teh, sementara daun gamal kandungan taninnya banyak, daung singkong taninnya agak banyak, dan kembang sepatu kandungan taninnya sedikit. Menurut literatur, daun yang memiliki kadar tanin paling banyak hingga paling sedikit adalah kaliandra kadar tanin 10% (Wiryawan et al., 1999), lamtoro mengandung tanin dengan konsentrasi tinggi dan kadar protein 24,77% (Susanti, 2002), teh; daun singkong dengan kadar protein 16,7-39,9% dan kandungan taninnya berpotensi meningkatkan daya tahan saluran pencernaan ternak terhadap mikroorganisme parasit (Anonim, 2011); gamal dengan kadar tanin hanya 0,07% dan kadar ADF yang rendah 25.95% dengan koefisien cerna bahan kering ransum (Rahmawati, 2001); dan kembang sepatu.
            Banyak tanaman atau hijauan pakan ternak yang mengandung tanin selain daun gamal, daun singkong, daun lamtoro, daun kaliandra, daun kembang sepatu, dan teh. Ekstrak daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) merupakan salah satu jenis tanaman yang mengandung flavonoid, saponin, triterpenoid dan tanin. Kadar tanin dalam daun belimbing wuluh muda sebesar 10,92% (Hayati et al., 2010). Turi merupakan salah satu tanaman yang mengandung tanin. Kulit batang turi mengandung tanin, egatin, zantoegatin, basorin, resin, kalsium oksalat, sulfur, peroksidase, zat warna. Pada daun turi terdapat saponin, tanin, glikoside, peroksidase, vitamin A dan B pada bunga terdapat kalsium, zat besi, zat gula, vitamin A dan B (Widiyati, 2009). Daun jambu biji juga mengandung tanin. Tanaman jambu biji merupakan tanaman yang istimewa, buahnya memiliki kandungan zat gizinya yang tinggi, seperti vitamin C, potasium, dan besi. Di dalam daun jambu biji terdapat tanin, minyak atsiri (eugenol), dan minyak lemak. Oleh karena adanya senyawa-senyawa yang terkandung di dalamnya menyebabkan tanaman ini banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional (Ana, 1994).
            Kuinon adalah senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar seperti kromofor pada benzokuinon, yang terdiri atas dua gugus karbonil yang berkonjugasi dengan dua ikatan rangkap karbo-karbon. Berdasarkan hasil uji kuinon, semua hijauan yang diuji (gamal, lamtoro, kaliandra, daun singkong, daun kembang sepatu, dan teh) mengandung senyawa kuinon. Menurut literatur sama bahwa gamal, lamtoro, kaliandra, daun singkong, daun kembang sepatu, dan teh mengandung senyawa kuinon karena hijauan ini termasuk kelompok leguminosa, yang mana senyawa kuinon juga terdapat pada keluarga Rubiaceae, Rhamnaceae, Polygonaceae (Harborne, 1996).
            Berdasarkan hasil uji ikatan tanin dengan karbohidrat dan mineral menyatakan bahwa senyawa tanin tidak berikatan dengan karbohidrat dan mineral. Hasil praktikum berbeda dengan literatur. Tanin berikatan dengan karbohidrat dan mineral. Tanin yang mudah terhidrolisis merupakan polimer gallic atau ellagic acid yang berikatan ester dengan sebuah molekul gula (Jayanegara et al., 2008). Tanin diketahui dapat berikatan dengan protein dan mineral sehingga protein dan mineral menjadi tidak dapat digunakan oleh tubuh. Penelitian pada tikus percobaan yang mengkonsumsi tanin teh dalam konsentrasi tinggi, tingkat penyerapan mineral kalsium mengalami penurunan pada 2 minggu pertama tetapi pada minggu ke-4 tingkat penyerapan kalsiumnya relatif sama (Syamsir, 2010).
Hasil uji ikatan tanin dengan protein, daun paling banyak berikatan dengan protein putih telur, kemudian disusul oleh sari kedelai, susu skim, dan susu murni. Menurut literatur, tanin lebih banyak berikatan dengan susu skim dengan kadar protein 62,7% (Fahmi, 2003), sari kedelai dengan kadar protein 35-38%, putih telur dengan kadar protein 12%, dan susu murni protein sekitar 3,15-3,22% (Muharini, 2003).















KESIMPULAN
            Tanin merupakan senyawa polifenol yang banyak terdapat di dalam hijauan pakan ternak khususnya tanaman leguminosa yang mengandung protein tinggi karena tanin melindungi protein pakan dari degradasi mikroba rumen. Pada percobaan ini, semua bahan yang diuji mengandung senyawa tanin yaitu gamal, lamtoro, kaliandra, daun singkong, daun kembang sepatu, dan teh hitam. Selain itu, tanin berikatan dengan protein, karbohidrat, dan mineral.

























DAFTAR PUSTAKA
Ana, Poejiati. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Anonim. 2011. Budidaya hijauan pakan kambing etawa berkualitas. http://bandungkambingetawa.wordpress.com/2011/03/10/budidaya-hijauan-pakan-kambing-etawa-berkualitas/. Diakses tanggal [4 Mei 2012].
Fahmi, Taptazani. 2003. Kualitas fisik, kimia, dan palatabilitas karage daging kelinci dengan penambahan campuran daging giling dan susu skim. Skripsi. Bogor: Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.
Harborne JB. 1996. Metode Fitokimia: Cara Menganalisis Tanaman. Terjemahan K. Padmawinata & I Sudiro. Bandung: ITB Pr.
Hayati, Elok Kamilah, A. Ghanaim Fasyah, dan Lailis Sa’adah. 2010. Fraksinasi dan identifikasi senyawa tanin pada daun belimbing wuluh (Averrohoa bilimbi L.). Jurnal Kimia. 4 (2) : 193-200.
Indriyani, D. 2008. Uji efikasi ekstrak etanol daun gamal (Gliricidia maculata Hbr.) dan kapuk randu (Ceiba pentandra Gartn.) sebagai insektisida nabati terhadap hama bisul dadap (Quadrastichus erythrinae Kim.). Skripsi Sarjana Jurusan Biologi. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Jayanegara A., A. Sofyan. 2008. Penentuan aktivitas biologis tanin beberapa hijauan secara in vitro menggunakan ‘Hohenheim Gas Test’ dengan polietilen glikol sebagai determinan. Media Peternakan. 31 (1) : 44-52.
Laconi, E. B., dan T. Widiyastuti. 2010. Kandungan xantofil daun lamtoro (Leucaena leucocephala) hasil detoksikasi mimosin secara fisik dan kimia. Media Peternakan.
Muharini, Mida Ririn. 2000. Kemurnian sapi bali dibalai inseminasi buatan Singosari dilihat dari pola hemoglobin dengan metode isoelectric focusing. Skripsi. Bogor: Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.
Nismah. 2009. Uji toksisitas ekstrak daun gamal (Gliricidia maculata) terhadap imago hama bisul dadap (Quadrastichus erythrinae KIM.). Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Nohong, dan Hadijah Sabarwati. 2006. Isolasi metabolit sekunder dari kulit batang kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis). Penelitian. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unhalu.
Sartika, Dewi. Teh Hijau Bisa Sembuhkan Penyakit Ginjal. http://www . indomedia.com/bpost/012000/23/serba/serba4.htm. Diakses tanggal [1 Mei 2012].
Syamsir, Elvira. 2010. Tanin pada teh menurunkan penyerapan protein dan mineral. http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1971062-tanin-pada-teh menurunkan-penyerapan/#ixzz1tga8ojwu. Diakses tanggal [4 Mei 2012].
Widaningrum et al. 2005. Pengayaan tepung kedelai pada pembuatan mie basah dengan bahan baku tepung terigu yang disubstitusi tepung garut. Jurnal Pascapanen. 2: 41-48.
Widiyati, Sri Wahyu. 2009. Pengaruh pemberian ekstrak daun turi (Sesbania grandiflora L.) terhadap jumlah sekresi air susu dan diameter alveolus kelenjar ambing mencit (Mus musculus). Skripsi. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.
Wiryawan, Wina, K.G.E., Ernawati, R. 1999. Pemanfaatan tanin kaliandra (Calliandra calothyrsus) sebagai agen pelindung beberapa sumber protein pakan (In Vitro). Bogor. Institut Pertanian Bogor.
Yudana dan Luize. 1998. Mengenal Ragam Dan Manfaat Teh (http://www.indomedia.com/intisari/1998/mei/teh.htm ). Diakses tanggal [1 Mei 2012].












LAMPIRAN
Larutan Kontrol
Uji Tanin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar