Selasa, 15 Mei 2012

Buffer



Laporan Praktikum Ke-5                    Hari/Tanggal               : Senin, 19 Maret 2012
Integrasi Proses Nutrisi                       Tempat Praktikum       : Laboratorium Biokimia
            dan Mikrobiologi Nutrisi        
Nama Asisten              : Denbetti






BUFFER
Santa Lusya Simanjuntak
D24100026
Kelompok 2/ G1






















DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
s
PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Buffer adalah sistem cairan yang cenderung mempertahankan perubahan pH jika penambahan sedikit asam maupun sedikit basa. Buffer dibuat dari asam lemah dengan garam dari basa konjugasinya atau basa lemah dengan garam dari asam konjugasinya. Kebutuhan buffer kadang menyulitkan karena hampir setiap analisa membutuhkan kondisi pH tertentu yang relatif stabil. Dalam memilih buffer yang harus diperhatikan adalah pH optimum serta sifat-sifat biologisnya. Banyak jenis buffer yang mempunyai impact terhadap sistem biologis, aktivitas enzim, substrate, atau kofaktor (Riyadi, 2009).
            Larutan penyangga ada dua yaitu larutan penyangga yang bersifat asam dan larutan penyangga pada kondisi basa. Buffer asam adalah larutan yang mempertahankan pH pada daerah asam yakni pH<7. Jika larutan mengandung konsentrasi molar yang sebanding antara asam dan garam, maka campuran tersebut akan memiliki pH 4.76. Contohnya adalah campuran asam etanoat dan natrium etanoat dalam larutan.  Sedangkan buffer basa adalah larutan yang dapat mempertahankan pH pada kondisi basa yakni pH>7. Jika keduanya dalam keadaan perbandingan molar yang sebanding, larutan akan memiliki pH 9.25. Contohnya adalah campuran larutan amonia dan larutan amonium klorida. (Clark, 2007).

Tujuan
            Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahan larutan asam dan larutan basa ke dalam larutan buffer, dan membuat kurva titrasi.



           




MATERI DAN METODE
Materi
            Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah larutan buffer fosfat, HCl 0,05 N, NaOH 0,05 N, dan cairan rumen. Alat-alat yang digunakan adalah botol selai, pengaduk gelas, kertas indikator pH, pipet mohr, dan gelas ukur 50 ml.

Metode
            Cairan rumen diambil sebanyak 50 ml dengan gelas ukur, kemudian ukur pH dan dimasukkan kedalam botol selai. Larutan NaOH 0,05 N diambil sebanyak 10 ml dengan pipet mohr, diukur pHnya dan dimasukkan ke dalam botol selai berisi cairan rumen. Larutan tersebut diaduk dengan pengaduk gelas lalu ukur pH dengan kertas indikator pH. Larutan NaOH 0,05 N ditambahkan hingga terjadi perubahan pH yang mengarah pada pH NaOH (setiap penambahan NaOH adalah 10 ml). Setiap penambahan NaOH 0,05 N dicatat pH-nya. Pada larutan kedua, NaOH 0,05 N diganti dengan HCl 0,05 N dan dilakukan prosedur yang sama seperti diatas. Tetapi pada larutan kedua larutan yang ditambahkan adalah HCl 0,05 N.
            Larutan buffer fosfat diambil sebanyak 50 ml dengan gelas ukur, kemudian ukur pH dan dimasukkan kedalam botol selai. Larutan NaOH 0,05 N diambil sebanyak 10 ml dengan pipet mohr, diukur pHnya dan dimasukkan ke dalam botol selai berisi buffer fosfat. Larutan tersebut diaduk dengan pengaduk gelas lalu ukur pH dengan kertas indikator pH. Larutan NaOH 0,05 N ditambahkan hingga terjadi perubahan pH yang mengarah pada pH NaOH (setiap penambahan NaOH adalah 10 ml). Setiap penambahan NaOH 0,05 N dicatat pH-nya. Lakukan prosedur yang sama untuk larutan buffer fosfat  50 ml dan HCl 0,05 N 10 ml (pH mendekati HCl).
            Larutan NaOH 0,05 N diambil sebanyak 50 ml dengan gelas ukur, kemudian ukur pH dan dimasukkan kedalam botol selai. Larutan HCl 0,05 N diambil sebanyak 10 ml dengan pipet mohr, diukur pHnya dan dimasukkan ke dalam botol selai berisi buffer fosfat. Larutan tersebut diaduk dengan pengaduk gelas lalu ukur pH dengan kertas indikator pH. Larutan HCl 0,05 N ditambahkan hingga terjadi perubahan pH yang mengarah pada pH HCl (setiap penambahan HCl adalah 10 ml). Setiap penambahan HCl 0,05 N dicatat pH-nya.
TINJAUAN PUSTAKA
Buffer
Larutan buffer adalah larutan yang mengandung asam lemah atau basa lemah dan garamnya. Larutan buffer mempunyai kemampuan dalam mempertahankan pH bila sedikit asam atau basa kuat ditambahkan kedalam larutan tersebut.
Buffer terbagi menjadi dua yaitu buffer asam dan buffer basa. Buffer asam contohnya cairan rumen sedangkan buffer basa adalah buffer posphat. Buffer pada hewan ternak sangat penting karena proses metabolisme terjadi pada pH tertentu. Perubahan pH akan mempengaruhi metabolisme nutrien didalam sel yang padaakhirnya dapat mempengaruhi pertumbuhan, nafsu makan, metabolisme asam aminodan energi, penggunaan mineral, metabolisme vitamin, dan penyerapan zat makanan (Rohimah, 2010).
Tubuh menggunakan penyangga pH (buffer) sebagai pelindung terhadap perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam pH darah. Adanya kelainan pada mekanisme pengendalian pH dapat menyebabkan ketidakseimbangan asam basa, yaitu asidosis atau alkalosis. Asidosis adalah suatu keadaan dimana darah terlalu banyak mengandung asam (atau terlalu sedikit mengandung basa) yang menyebabkan pH darah menurun. Sedangkan Alkalosis adalah suatu keadaan dimana darah terlalu banyak mengandung basa (atau terlalu sedikit mengandung asam) dan menyebabkan meningkatnya pH darah (Anonim, 2011).

Buffer fosfat
Sistem buffer fosfat serupa sistem buffer bikarbonat. Garam natrium dari hidrogen fosfat berperan sebagai asam lemah dan monohidrogen fosfat berperan sebagai basa lemah. Buffer fosfat akan mempertahankan pH fluida intraseluler dan tubulus ginjal dan tidak mempertahankan pH darah, namun buffer penting untuk urin (James, 2008). Buffer phosphat akan menghambat aktivitas dari beberapa metabolik enzim termasuk karboksilase, fumarase, dan phosphoglucomutase

Asam klorida (HCl)
Asam klorida (HCl) adalah gas yang tidak berwarna yang dilarutkan dalam air. Asap HCl  dan ion-ionnya yang terbentuk dalam larutan, keduanya berbahaya bagi jaringan tubuh manusia (Azizah, 2010).
Asam klorida merupakan asam kuat karena dapat berdisosiasi sempurna dalam larutan.  HCl à H+ + Cl-. Tanda (à) menunjukkan bahwa semua HCl telah berdisosiasi dengan ion H+ dan Cl-. Asam klorida terdapat di lambung dan terlibat dalam pencernaan protein serta menurunkan jumlah bakteri dari makanan yang ditelan (James, 2008).

Natrium  Hidroksida (NaOH)
Basa merupakan akseptor ion hidrogen. Basa yang larut dalam air disebut alkali. Alkali berdisosiasi dalam air untuk memberikan ion hidroksida OH-. Basa memiliki karakteristik yaitu memiliki rasa  sedikit pahit atau rasa logam, bersifat korosif (membaka jaringan), membuat kertas lakmus menjadi biru, memiliki pH lebih dari 7, dan apabila bereaksi dengan asam akan membentuk garam dan air (netralisasi).  Natrium hidroksida merupakan basa kuat dan dapat berdisosiasi sempurna dalam larutan. Reaksinya adalah NaOH à Na+ + OH-. Natrium hidroksida (soda kaustik) berfungsi sebagai zat pembersih kuat terutama untuk kotoran berminyak seperti pembersih oven (James, 2008).

Cairan Rumen
Cairan rumen kaya akan enzim pendegradasi serat dan vitamin. Cairan rumen mengandung enzim α-amilase, galaktosidase, hemiselulase, selulase, dan xilanase. Cairan rumen telah digunakan sebagai sumber inokulan dalam pengelolaan silase jerami padi (Pantaya, 2005). pH rumen yang ideal untuk  pertumbuhan dan aktivitas mikroba atau proses fermentasi di dalam rumen berkisar antara 5-7.5. pH cairan rumen tergantung dari jenis dan komposisi kimia pakan yang dikonsumsi (Rohimah, 2010).




HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tabel 1. Perlakuan Cairan Rumen 50 ml dan NaOH 0,05 N 10 ml
Penambahan NaOH
pH
10 ml
8
10 ml
9
10 ml
10
10 ml
10
10 ml
10
10 ml
10
10 ml
10
10 ml
10
10 ml
11

Tabel 2. Perlakuan Cairan Rumen 50 ml dan HCl 0,05 N 10 ml
Penambahan HCl
pH
10 ml
7
10 ml
7
10 ml
7
10 ml
6
10 ml
6
10 ml
5
10 ml
5
10 ml
5
10 ml
5
10 ml
5
10 ml
4
10 ml
4
10 ml
3
10 ml
3
10 ml
3
10 ml
3
10 ml
2
10 ml
2

Tabel 3. Perlakuan Buffer Fosfat 50 ml dan NaOH 0,05 N 10 ml
Penambahan NaOH
pH
10 ml
9
10 ml
11
10 ml
11
10 ml
11

Tabel 4. Perlakuan Buffer Fosfat 50 ml dan HCl 0,05 N 10 ml
Penambahan HCl
pH
10 ml
6
10 ml
5
10 ml
3
10 ml
3
10 ml
3
10 ml
2
10 ml
2
10 ml
1
10 ml
1

Tabel 5. Perlakuan NaOH 0,05 N 50 ml dan HCl 0,05 N 10 ml
Penambahan HCl
pH
10 ml
11
10 ml
11
10 ml
11
10 ml
10
10 ml
7
10 ml
4
10 ml
2
10 ml
1
10 ml
1

Pembahasan
            Buffer adalah larutan kimia yang dapat mempertahankan nilai pH bila diberi sedikit asam kuat atau basa kuat. Larutan buffer terdiri dari asam lemah dan garamnya atau basa lemah dan garamnya.
            Pada kurva pertama yaitu cairan rumen dan HCl 0,05 N, serta buffer fosfat dan HCl 0,05 N menunjukkan bahwa grafik cairan rumen + HCl berada diatas dan cairan rumen membutuhkan penambahan asam klorida jauh lebih banyak. Hal ini dikarenakan terjadi salivasi di dalam rumen yang berfungsi sebagai buffer dan mengandung bikarbonat dan fosfat yang tinggi. Asam-asam organik yang diproduksi oleh mikroorganisme dalam rumen dinetralisir oleh saliva, sehingga pH rumen dipertahankan antara 6,5 dan 7,5. Jadi ketika asam klorida ditambahkan kedalam cairan rumen, maka saliva akan cepat menetralisir sehingga agar pHnya berubah perlu penambahan HCl yang lebih banyak (Ayu, 2007).
            Pada kurva kedua yakni cairan rumen + NaOH 0,05 N dan buffer fosfat + NaOH 0,05 N menunjukkan bahwa grafik buffer fosfat berada diatas dan tidak membutuhkan penambahan NaOH yang banyak. Sementara grafik cairan rumen berada dibawah dan membutuhkan lebih banyak penambahan NaOH dibandingkan dengan buffer fosfat. Hal ini dikarenakan buffer fosfat merupakan buffer basa yang tersusun atas garam natrium dari hidrogen fosfat berperan sebagai asam lemah dan monohidrogen fosfat berperan sebagai basa lemah (James, 2008). Sedangkan cairan rumen merupakan buffer asam yang cenderung mempertahankan pH pada kondisi asam hingga pH netral (Rohimah, 2010).
            Sistem tubuh yang mengatur kadar asam-basa terdiri atas 3 yaitu sistem buffer kimiawi, sistem regulasi respirasi (paru), dan sistem regulasi renal (ginjal). Sistem buffer terbagi menjadi sistem buffer bikarbonat, sistem buffer fosfat, sistem buffer protein, sistem buffer hemoglobin, dan sistem buffer amonia.  Semua sistem buffer bekerja sama dalam mempertahankan pH. Sistem buffer dalam tubuh ternak sama prinsip kerjanya dengan sistem buffer dalam tubuh manusia (James, 2008). Tetapi pada ternak ruminansia memiliki sistem buffer yang berbeda karena ternak ini memiliki protein mikroba.
Sistem buffer pada ternak ruminansia adalah sistem yang mengontrol atau mempertahankan pH rumen. Pemberian konsentrat yang berlebihan dapat mengakibatkan menurunnya pH rumen dengan timbulnya gejala asidosis. Untuk mengatasi penurunan pH rumen akibat penggunaan konsentrat ini maka dapat dilakukan dengan penambahan mineral penyangga (buffer). Contoh mineral buffer adalah NaHC03, CaC03, KHCO3, Na2CO3 dan MgO. Sistem buffer ini dalam tubuh ternak ini penting dalam optimalisasi kerja enzim karena enzim dapat bekerja pada pH netral (Joseph, 2001).
Larutan penyangga (buffer) sangat penting bagi ternak untuk karena sangat penting dalam metabolisme tubuh. Ternak ruminansia sangat memerlukan buffer yang bersifat untuk pencernaan fermentatif dimana buffer akan mempertahankan pH rumen 6,5 dan 7,5 yang merupakan medium yang cocok untuk pertumbuhan dan aktivitas mikroba. Sementara untuk ternak non ruminansia, buffer sangat penting dalam mempertahankan pH dalam tubuh baik pH darah maupun pH pada lambung. Selain itu salah satu karakteristik dasar status asam basa pada ternak adalah pH darah, yang dalam kondisi normal berkisar antara 7.40 ± 0,1 sehingga ternak sangat membutuhkan larutan penyangga dengan pH netral yaitu 7 (Joseph, 2001).













KESIMPULAN
            Buffer adalah larutan yang dapat mempertahankan pH dengan penambahan sedikit asam kuat atau sedikit basa kuat. Cairan rumen merupakan buffer asam yang mempertahankan pH pada kondisi asam sehingga pada larutan cairan rumen dan HCl membutuhkan penambahan HCl yang sangat banyak. Sedangkan buffer fosfat adalah buffer basa yang mempertahankan pH pada larutan buffer fosfat dan NaOH. Larutan buffer fosfat dan cairan rumen yang diberi HCl membutuhkan penambahan HCl jauh lebih banyak dibandingkan dengan NaOH.




















DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011. Hati-Hati Bila Meniup Makanan dan Minuman yang Masih Panas. http://www.unikz.up2det.com/2011/11/hati-hati-bila-meniup-makanan-dan.html. Diakses tanggal [22 Maret 2012]
Ayu, Bungsu. 2007. Pakan sapi perah. bungsuayu.files.wordpress.com/2011/06/ppt_2007_5_makanan-sapi perah.pdf.Diakses tanggal [22 Maret 2012].
Azizah, Utiya. 2010. Sifat-sifat asam, basa, dan garam. http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_dasar/asam_dan_basa/sifat-sifat-asam-basa-dan-garam/. Diakses tanggal [20 Maret 2012]
Clark, Jim. 2007. Larutan Penyangga. www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_fisika1/kesetimbangan_asam_basa/larutan_penyangga/. Diakses tanggal [25 Maret 2012]
James, Joyce et al. 2008. Prinsip-Prinsip Sains Untuk Keperawatan. Penerbit Erlangga: Jakarta.
Joseph, G. 2001. Status asam basa pada ternak kerbau lumpur (Bubalus bubalis) yang diberi pakan jerami padi dan konsentrat dengan penambahan natrium. J. Ilmu Ternak dan Vet. 6 (4): 235-238
Pantaya, Dadik. 2005. Penambahan enzim dari cairan rumen untuk meningkatkan kandungan energi metabolisme wheat pollard. ejournal.unud.ac.id/abstrak/dadik pataya 080102005.pdf. Diakses tanggal [22 Maret 2012]
Riyadi, Wahyu. 2009. Berbagai larutan buffer. Sciencebiotech.net/berbagai-larutan-buffer-2/. Diakses tanggal [25 Maret 2012]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar