Laporan Praktikum Ke-6 Hari/Tanggal : Senin, 26 Maret 2012
Integrasi Proses Nutrisi Tempat Praktikum : Laboratorium Biokimia
dan Mikrobiologi Nutrisi
Nama
Asisten : Dara Okti Sari
SIFAT PROTEIN
Santa Lusya
Simanjuntak
D24100026
Kelompok 2/ G1

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Protein merupakan senyawa polimer organik yang berasal dari monomer
asam amino yang mempunyai ikatan peptida. Molekul protein memiliki kandungan oksigen, karbon, nitrogen, hydrogen, dan
sulfur. Sebagian protein juga mengandung fosfor (Rozi, 2011).
Pada
umumnya protein dalam bentuk amorf dan hanya sedikit sekali yang terdapat dalam
bentuk kristal. Protein nabati lebih mudah membentuk kristal daripada protein
hewani. Larutan protein dapat digumpalkan atau diendapkan dengan pemanasan,
radiasi atau penambahan bahan kimia tertentu. Reaksi penggumpalan atau
pengendapan protein sifatnya irreversibel. Gumpalan protein yang terbentuk di
dinding tabung reaksi menunjukkan adanya protein albumin (Sumardjo, 2009).
Titik
isolistrik suatu protein sangat erat kaitannya dengan sifat protein tersebut.
Pada titik isolistriknya, daya hantar, tekanan osmosis, dan kelarutan protein
tersebut minimal. Selain sifat-sifat yang umum, kebanyakan protein alam masih
mempunyai satu atau lebih sifat khusus. Sifat khusus tersebut adalah: (a)
mempunyai daya angkut oksigen; (b) mempunyai daya sebagai alat pengangkut
lipida; (c) mempunyai kelarutan tertentu dalam garam encer atau asam encer; dan
(d) mempunyai aktivitas sebagai enzim atau hormon. Protein yang dipengaruhi
oleh pemanasan, sinar ultraviolet, gelombang ultrasonik, pengocokan yang kuat
atau bahan-bahan kimia tertentu dapat mengalami proses denaturasi. Denaturasi
dapat mengubah sifat protein. Rantai-rantai peptida yang membentuk protein,
satu sama lainnya dihubungkan oleh gaya-gaya yang lemah dan pada denaturasi,
gaya-gaya yang lemah dapat dihilangkan (Sumardjo, 2009).
Tujuan
Praktikum kali ini bertujuan untuk mempelajari
sifat-sifat protein yaitu koagulasi, sifat amfoter dan sifat reversibel
protein.
TINJAUAN
PUSTAKA
Protein
Protein pertama kali ditemukan pada tahun 1838
oleh Jöns Jakob Berzelius. Protein merupakan senyawa polimer organik yang
berasal dari monomer asam amino yang mempunyai ikatan peptida. Istilah protein berasal dari bahasa Yunani “protos” yang memiliki arti “yang paling
utama”. Protein memiliki kandungan oksigen, karbon, nitrogen, hydrogen, dan
sulfur. Sebagian protein juga menagndung fosfor. Protein membawa kode-kode
genetik berupa DNA dan RNA. Sumber protein dapat dijumpai pada makanan yakni daging, telur, ikan, susu,
biji-bijian, kentang, kacang, dan polong-polongan (Rozi, 2011).
Manfaat protein bagi tubuh kita sangatlah banyak.
Protein sangat mempengaruhi proses pertumbuhan tubuh kita. Manfaat protein
diantaranya adalah sebagai enzim, sebagai alat pengangkut dan
penyimpan, untuk penunjang mekanis, sebagai pertahanan tubuh atau imunisasi
pertahanan tubuh, sebagai media perambatan impuls syaraf, sebagai pengendalian
pertumbuhan (Rozi, 2011).
Sifat Amfoter Protein
Dalam molekul protein
terdapat radikal karboksil dan radikal asam amino. Adanya radikal karboksil
bersifat asam dan radikal amino yang bersifat basa dalam suatu molekul dapat
menyebabkan terjadinya netralisasi intramolekul membentuk ion hibrida, ion
dwikutub, atau ion zwitter. Dalam lingkungan asam, protein sebagai ion zwitter
bersifat sebagai kation dan dalam medan listrik bergerak menuju katoda. Dalam
lingkungan basa, protein sebagai ion zwitter bersifat sebagai anion dan dalam
medan listrik bergerak menuju ke anoda (Sumardjo, 2009).
Asam amino juga bersifat amfoter atau amfiprotik, yaitu dapat
bersifat sebagai asam dan memberikan proton kepada basa kuat, atau dapat
bersifat sebagai basa dan menerima proton dari basa kuat. Sifat amfoter ini
tampak pada asam amino yang hanya mengikat satu gugus -COOH dan satu gugus
-NH2. Adapun asam amino yang mengikat lebih dari satu gugus -COOH dan hanya
satu gugus -NH2, akan lebih bersifat asam (Sya’bana, 2011).
Sifat Koagulasi
Protein
Kandungan
protein dalam bahan pangan beragam, untuk memperoleh protein dalam konsentrasi
tinggi, dibuat protein dalam bentuk konsentrat atau isolat. Isolasi
protein pada prinsipnya didasarkan atas
dua proses utama yaitu ekstraksi dan koagulasi (penggumpalan). Isolat protein
dibuat dengan cara mengendapkan protein pada titik isoelektriknya. Koagulasi
dan pengendapan dilakukan dengan cara pemanasan dan penambahan asam, agar
mencapai pH tertentu (pH isoelektrik), terjadi penggumpalan, dan endapan
(protein) dipisahkan dari cairan (pati), (Triyono, 2010).
Protein
dapat mempertahankan kesesuaian bentuknya asalkan lingkungan fisik dan kimianya
dapat dipertahankan.Jika lingkungan berubah, maka protein akan terurai atau
mengalami perubahan sifat (denaturasi); maka dapat kehilangan struktur
sekunder, tersier, dan kuarternya. Pemanasan pada suhu yang tinggi (>600C)
atau penambahan asam atau basa dalam periode waktu yang lama menyebabkan
denaturasi karena ikatan hidogen ruptur. Sebagian protein dapat dikembalikan ke
bentuk aslinya, jika terdenaturasi tanpa harus menjadi insoluble (tidak dapat larut). Contohnya adalah pemanasan ringan.
Pemanasan yang besar dapat menyebabkan denaturasi yang menetap. Putih telur
(albumin) akan memadat dan menjadi insoluble
jika dipanaskan (Slonane, 1995).
Susu
Full Cream
Whole milk atau
sering disebut full cream merupakan susu asli yang tidak dikurangi kadar
lemaknya. Whole milk dapat memperbaiki kadar kolesterol namun tidak
sebanyak yang dihasilkan susu bebas lemak (Harmandini, 2010). Minum dua atau
tiga gelas susu full cream sehari, kadar lemak 2 persen, menurunkan
kecenderungan serangan jantung dan stroke.
Susu full cream mengandung 4% lemak dan banyak mengandung vitamin A dan D
(Anonim, 2009).
Sari Kedelai
Sari kedelai merupakan minuman yang bergizi tinggi, terutama
karena kandungan proteinnya. Selaitu sari kedelai juga mengandung lemak,
karbohidrat, kalsium, phosphor, zat besi, provitamin A, Vitamin B kompleks
(kecuali B12), dan air. Susu kedelai mengandung 36% protein (Esti, 2000). Sari
kedelai berasal dari hasil penyaringan dan perasan bubur kedelai berupa cairan
berwarna putih.
Susu Skim
Susu skim adalah susu tanpa lemak
yang bubuk susunya dibuat dengan menghilangkan sebagian besar air dan lemak
yang terdapat dalam susu. Kandungan lemak pada susu kurang dari 1%. Susu skim
mengadung semua kandungan yang dimiliki susu pada umumnya, kecuali lemak dan
vitamin larut lemak. Susu skim dapat menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh
dan membantu mengurangi frekuensi menyakitkan dari gejala gout. Arthritis Gout
atau penyakit gout adalah penyakit yang membuat nyeri dan peradangan sendi
(Ratnadita, 2012).
Susu Murni
Air susu merupakan bahan makanan utama bagi makhluk hidup
yang baru lahir, baik bagi hewan maupun manusia. Sebagai bahan makanan/minuman
air susu sapi mempunyai nilai gizi yang tinggi, karena mengandung unsur-unsur
kimia yang dibutuhkan oleh tubuh seperti kalsium (Ca), phosphor (P), vitamin A,
vitamin B, dan riboflavin yang tinggi. Komposisinya mudah dicerna dengan
kandungan protein, mineral, dan vitamin yang tinggi. Air susu termasuk jenis
bahan pangan hewani, berupa cairan putih yang dihasilkan oleh ternak mamalia
dan diperoleh dengan cara pemerahan. Air susu yang banyak menyebar dan dikenal
dipasaran adalah susu sapi. Sebenarnya susu kambing dan kerbau tidak kalah
gizinya dibandingkan dengan susu sapi (Saleh, 2004).
Telur Ayam Negeri
Telur ayam negeri memiliki berat sekitar 40-50 g dengan warna
cangkang cokelat gelap hingga terang. Secara umum kandungan zat gizi telur ayam
negeri (ras) dan telur ayam kampung adalah sama. Telur ayam tersusun atas 1/3
kuning telur dan 2/3 putih telur. Kuning telur mengandung 50% air dan
sepertiganya adalah lemak, trigliserida (65,5%), fosfolipid (28,3%), dan
kolesterol (5,2%). Sedangkan putih telur lebih cair mengandung 90% air,
protein, karbohidrat, ion anorganik, dan tidak mengandung lemak dan kolesterol
(Anonim, 2009).
MATERI DAN METODE
Materi
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini
adalah gelas piala, tabung reaksi, rak tebung reaksi, kertas indikator pH,
pipet, magnetic stirrer, pemanas air, kompor gas, dan lain-lain. Bahan-bahan
yang digunakan adalah HCl 0,1 N, NaOH 0,1 N, HgCl2 jenuh,
formeldehyde 10%, putih telur ayam negeri, susu murni, susu skim, susu full
cream, sari kedelai, aquadest, dan tissue.
Metode
Pengaruh pemanasan
terhadap kelarutan protein: putih telur dimasukkan kedalam tabung reaksi dengan
bantuan spuit, diamati dan dicatat sifat fisiknya. Kemudian tabung reaksi
dimasukkan ke dalam air mendidih hingga terjadi perubahan. Perubahan yang
terjadi diamati dan dicatat. Prosedur yang diatas dilakukan dengan menggunakan
susu, diamati dan dicatat serta dibandingkan antara putih telur dengan susu.
Pengaruh penambahan
larutan formaldehyde terhadap sifat protein: putih telur dimasukkan ke dalam
tabung reaksi dan diberi tanda angka 1-5, diamati dan dicatat sifat fisiknya.
Larutan formaldehyde dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 2, 4, 6, 8, 10
tetes masing-masing ke dalam tabung reaksi 1-5. Perubahan yang terjadi diamati.
Setelah itu tabung reaksi tersebut dimasukkan ke dalam air mendidih hingga
terjadi perubahan, diamati dan dicatat perubahannya. Prosedur diatas tersebut
dilakukan pada bahan susu murni, susu full cream, susu skim, dan sari kedelai.
Perubahan diamati dan dicatat kemudian dibandingkan dengan putih telur.
Pengendapan protein
dengan logam berat: putih telur dimasukkan ke dalam tabung reaksi, diamati dan dicatat
sifat fisiknya. Larutan HgCl2 diteteskan ke tabung reaksi, diamati
dan dicatat perubahannya. Prosedur diatas tersebut dilakukan pada bahan susu,
diamati dan dicatat perubahannya kemudian dibandingkan antara putih telur dan
susu.
Pengamatan sifat amfoter:
putih telur dimasukkan ke dalam gelas piala yang telah diberi pengaduk magnet.
pH putih telur diukur menggunakan kertas indikator pH dan dicatat pH-nya. Putih
telur dititrasi dengan larutan HCl, diamati perubahan yang terjadi setiap
penambahan 5-10 ml HCl. Volume HCl yang ditambahkan dicatat. Lakukan prosedur
yang sama dengan NaOH 0,1 N.
\
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Kelarutan
protein terhadap pemanasan
|
Nama bahan
|
Sifat awal
|
Setelah
dipanaskan
|
|
Putih telur
|
Bening
|
Putih
|
|
|
Kental
|
Menggumpal
|
|
Susu kedelai
|
Krem
kecoklatan
|
Krem
kecoklatan
|
|
|
Agak
kental
|
Encer
|
|
Susu skim
|
Putih
|
Putih
|
|
|
Encer
|
Encer
|
|
Susu murni
|
Putih
|
Putih
|
|
|
Encer
|
Encer
|
|
Full
cream
|
Putih
|
Putih
|
|
|
Agak
encer
|
Encer
|
Reaksi
dengan formaldehyde
|
Nama bahan
|
Tabung reaksi
|
Sifat
awal
|
Setelah
ditambahkan formaldehyde
|
Setelah
dipanaskan
|
|
Putih telur
|
1
|
Bening
agak kuning dan agak kental
|
Bagian
bening hampir tidak kelihatan, bagian kental lebih banyak dibawah ada sangat
sedikit yang cair dan bening
|
+
|
|
|
2
|
Bening
agak kuning dan agak kental
|
Bagian
bening hampir tidak kelihatan, bagian kental lebih banyak dibawah ada sangat
sedikit yang cair dan bening
|
++
|
|
|
3
|
Bening
agak kuning dan agak kental
|
Atas
sedikit cairan bening, bawah (4/5) cairan agak kental bagian putih telur
|
++++++
|
|
|
4
|
Bening
agak kuning dan agak kental
|
Atas
: bening putih, tidak ada gumpalan dan bagian bawah cairan putih telur agak
kental
|
++++
|
|
|
5
|
Bening
agak kuning dan agak kental
|
Putih
telur encer semua, dibagian atas: bening putih, bagiang tengah : gumpalan,
bagian cair berwarna putih buram
|
++++++
|
|
Susu skim
|
1
|
Warna
putih bening, lebih encer, sedikit endapan
|
+++++
|
+
|
|
|
2
|
Warna
putih bening, lebih encer, sedikit endapan
|
++++
|
++
|
|
|
3
|
Warna
putih bening, lebih encer, sedikit endapan
|
+++
|
+++
|
|
|
4
|
Warna
putih bening, lebih encer, sedikit endapan
|
++
|
++++
|
|
|
5
|
Warna
putih bening, lebih encer, sedikit endapan
|
+
|
+++++
|
|
Susu murni
|
1
|
Warna
putih kusam dan tidak terlalu encer
|
+++++
|
+
|
|
|
2
|
Warna
putih kusam dan tidak terlalu encer
|
++++
|
++
|
|
|
3
|
Warna
putih kusam dan tidak terlalu encer
|
+++
|
+++
|
|
|
4
|
Warna
putih kusam dan tidak terlalu encer
|
++
|
++++
|
|
|
5
|
Warna
putih kusam dan tidak terlalu encer
|
+
|
+++++
|
|
Susu kedelai
|
1
|
Warna
krem kecoklatan dan kental
|
+++++
|
+
|
|
|
2
|
Warna
krem kecoklatan dan kental
|
++++
|
++
|
|
|
3
|
Warna
krem kecoklatan dan kental
|
+++
|
+++
|
|
|
4
|
Warna
krem kecoklatan dan kental
|
++
|
++++
|
|
|
5
|
Warna
krem kecoklatan dan kental
|
+
|
+++++
|
|
Full
Cream
|
1
|
Agak
encer,endapan agak banyak,putih
|
++++
|
+
|
|
|
2
|
Agak
encer,endapan agak banyak,putih
|
++
|
++
|
|
|
3
|
Agak
encer,endapan agak banyak,putih
|
++
|
+++
|
|
|
4
|
Agak
encer,endapan agak banyak,putih
|
+++
|
++++
|
|
|
5
|
Agak
encer,endapan agak banyak,putih
|
+++
|
+++++
|
Keterangn setelah
ditambahkan formaldehyde :
+ : agak sedikit endapan
++ : sedikit endapan
+++ : agak banyak endapan
++++ : banyak endapan
+++++ : sangat banyak endapan
Keterangan setelah
dipanaskan :
+ : agak sedikit gumpalan
++ :
sedikit gumpalan
+++ : agak banyak gumpalan
++++ : banyak gumpalan
+++++ : sangat banyak gumpalan
++++++ : gumpalan semua
Susu murni : gumpalan di bagian bawah
Susu kedelai : gumpalan di bagian atas
Full cream : susu membeku dan gumpalan di bagian
bawah
Susu murni : gumpalan di bagian atas
Putih telur : gumpalan di semua bagian
Pengendapan
protein dengan logam berat
|
Nama bahan
|
Sifat awal
|
Setelah
ditambah HgCl2
|
|
Putih telur
|
Bening
|
Keruh
|
|
|
Kental
tapi sedikit encer
|
Menggumpal
|
|
Susu kedelai
|
Coklat
|
Bening
|
|
|
Tidak
ada endapan
|
Tidak
ada endapan
|
|
Susu skim
|
Putih
bening
|
Lebih
bening
|
|
|
Tidak
ada endapan
|
Ada
sedikit endapan
|
|
Susu murni
|
Putih
|
Bening
|
|
|
Endapan
sedikit
|
Kental
dan banyak endapan
|
|
Full
cream
|
Putih
|
Bening
|
|
|
Ada
sedikit endapan
|
Banyak
endapan
|
Pengamatan
sifat amfoter
1. Putih telur + HCl
pH telur awal = 10; pH HCl = 1
|
Penambahan HCl
|
pH
putih telur setelah penambahan HCl
|
|
5 ml
|
7
|
|
5 ml
|
6
|
|
5 ml
|
5
|
|
5 ml
|
5
|
|
5 ml
|
4
|
|
5 ml
|
3
|
|
5 ml
|
3
|
|
5 ml
|
2
|
2. Putih telur + NaOH
pH telur awal = 10; pH NaOH = 11
|
Penambahan NaOH
|
pH
putih telur setelah penambahan NaOH
|
|
5 ml
|
4
|
|
5 ml
|
4
|
|
5 ml
|
5
|
|
5 ml
|
5
|
|
5 ml
|
6
|
|
5 ml
|
6
|
|
5 ml
|
7
|
|
5 ml
|
10
|
|
5 ml
|
11
|
|
5 ml
|
11
|
|
5 ml
|
12
|
Grafik putih telur +
HCL Grafik
putih telur + NaOH
Pembahasan
Pengaruh
pemanasan terhadap kelarutan protein akan mengubah sifat protein. Pada putih
telur setelah dipanaskan akan menggumpal sedangkan susu cenderung tidak
mengalami perubahan meskipun pada sari kedelai dan susu full cream ada sedikit
perubahan dari agak encer atau agak kental menjadi encer. Hal ini dikarenakan
putih telur mengandung protein albumin yang mana akan memadat dan menjadi insoluble jika dipanaskan (Slonane,
1995).
Pada
reaksi dengan formaldehyde, penambahan formaldehyde terhadap susu dan putih
telur menyebabkan terbentuknya bahan yang agak keras atau seperti endapan
karena formalin
merupakan larutan cair mengandung 34%-38% CH2O dengan metil alkohol
sebagai zat stabilisator untuk memperlambat polimerisasi formalin menjadi
paraformaldehid yang padat. Formalin bereaksi
terhadap protein yang kemudian dapat mengurangi kemampuannya melawan
mikroorganisme. Pada putih telur dan susu skim, semakin banyak formaldehyde
yang ditambahkan semakin banyak endapan yang terbentuk. Hal ini dikarenakan
putih telur mengandung protein yang tinggi, tidak ada lemak dan kolesterol.
(Anonim, 2009). Sementara susu skim mengandung 36% protein dan lemak <1%
(Ratnadita, 2012). Tetapi pada susu murni dan sari kedelai, semakin banyak
formaldehyde yang ditambahkan maka endapan yang terbentuk semakin sedikit atau
semakin encer.
Setelah penambahan formalin, susu dan putih telur dipanaskan
selama 15 menit dalam air mendidih. Hasil yang diperoleh adalah pemanasan pada
putih telur mengakibatkan putih telur menggumpal secara sempurna (semuanya
memadat). Sementara pemanasan pada susu mengakibatkan endapan atau gumpalan
sebagian. Susu murni dan sari kedelai mengalami gumpalan diatas sedangkan susu
full cream dan susu skim mengalami gumpalan dibawah. Gumpalan pada susu
merupakan gumpalan sebagian dan masih terdapat air. Penggumpalan pada putih
telur sifatnya irreversibel sedangkan penggumpalan pada susu sifatnya
reversibel (dapat kembali ke bentuk semula). Sebagian protein
dapat dikembalikan ke bentuk aslinya, jika terdenaturasi tanpa harus menjadi insoluble (tidak dapat larut).
Contohnya: susu. Pemanasan yang besar dapat menyebabkan denaturasi yang
menetap. Contoh: putih telur (albumin) akan memadat dan menjadi insoluble jika dipanaskan (Slonane,
1995).
Isolasi
protein pada prinsipnya didasarkan atas
dua proses utama yaitu ekstraksi dan koagulasi (penggumpalan). Koagulasi dan
pengendapan dilakukan dengan cara pemanasan dan penambahan asam, agar mencapai
pH tertentu (pH isoelektrik), terjadi penggumpalan, dan endapan (protein)
dipisahkan dari cairan (pati), (Triyono, 2010). Protein yang dipengaruhi oleh
pemanasan, gelombang ultrasonik, sinar ultraviolet, pengocokan yang kuat atau
bahan-bahan kimia tertentu dapat menyebabkan denaturasi. Denaturasi dapat
mengubah sifat protein alam (Sumardjo, 2009).
Reaksi
penggumpalan atau pengendapan protein sifatnya irreversibel dan reversibel.
Contoh koagulasi irreversibel adalah gumpalan protein yang terbentuk di dinding
tabung reaksi menunjukkan adanya protein albumin (Triyono, 2010). Sebagian
protein dapat dikembalikan ke bentuk aslinya, jika terdenaturasi tanpa harus
menjadi insoluble (tidak dapat
larut). Contohnya adalah pemanasan ringan pada susu (Sumardjo, 2009).
Harga
pH pada saat protein dalam larutan sebagai ion zwitter sehingga tidak
mengadakan migrasi pada medan listrik disebut pH isolistrik atau titik
isolistrik tersebut. Besarnya titik isolistrik bergantung pada radikal
karboksil bebas, yang cenderung membentuk radikal bermuatan negatif sehingga
harga isolistiknya rendah. Sebaliknya, protein yang kaya akan radikal amino
bebas mempunyai harga titik isolistrik tinggi. Pada titik isolistriknya, daya
hantar, tekanan osmosis, dan kelarutan protein minimal. Dalam keadaan asam,
protein bersifat sebagai kation sedangkan dalam lingkungan basa protein sebagai
anion (Sumardjo, 2009).
KESIMPULAN
Protein adalah komponen
organik yang mengandung unsur karbon, oksigen, hidrogen, nitrogen, sulfur dan
phosphor. Ptotein memiliki sifat amfoter, sifat koagulasi dan reversibel. Sifat
amfoter adalah protein dapat bersifat sebagai
asam dan memberikan proton kepada basa kuat, atau dapat bersifat sebagai basa
dan menerima proton dari basa kuat. Dalam keadaan asam dengan pH yang rendah
memiliki titik isoelektrik yang rendah sedangkan keadaan basa titik
isoelektriknya tinggi. Sifat koagulasi adalah penggumpalan protein bila adanya
pemanasan, gelombang ultrasonik, sinar ultraviolet, pengocokan
yang kuat atau bahan-bahan kimia tertentu dapat menyebabkan denaturasi.
Koagulasi sifatnya reversibel dan irreversibel. Sebagian protein dapat
dikembalikan ke bentuk aslinya (reversibel), jika terdenaturasi tanpa harus
menjadi insoluble (tidak dapat
larut). Contohnya adalah pemanasan ringan pada susu. Pemanasan yang besar dapat
menyebabkan denaturasi yang menetap. Contohnya adalah putih telur yang
menggumpal sempurna bila dipanaskan dengan suhu yang tinggi dan waktu yang
lama.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,
2009. Informasi produk. http://hen-hen.com/02InfoProduk.html.
Diakses tanggal [15 April 2012]
Anonim.
2012. Mengenal formalin lebih dekat. http://www.distan.pemda-diy.go.id/index.php?option=content&task=view&id=186.htm.
Diakses tanggal [ 15 April 2012]
Ratnadita,
Adelia. 2012. Minum Susu Skim Bisa Mengurangi Sakit Radang Sendi. http://health.detik.com/read/2012/01/25/135824/1824519/763/minum-susu-skim-bisa-mengurangi-sakit-radang-sendi.
diakses tanggal [14 April 2012].
Saleh,
Eniza. 2004. Dasar pengolahan susu dan hasil ikutan ternak. Medan. USU Digital
Library.
Slonane,
Ethel. 1995. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta. EGC.
Sumardjo, Damin.
2009. Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran. EGC.
Sya’bana,
Muhammad Fauzi. 2011. Asam Amino dan Protein. http://kimia.upi.edu/staf/nurul/Web%202011/0800521/sifatasamamino.html.
diakses tanggal [14 April 2012]
Triyono,
Agus. 2010. Mempelajari Pengaruh Penambahan beberapa asam pada proses isolasi
protein terhadap tepung protein isolat Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.).
Semarang: Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna -
LIPI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar